Pendiri Malaka Project, Ferry Irwandi, memicu perhatian publik dan empati setelah berhasil menggalang donasi sebesar Rp 10,3 miliar dalam satu hari untuk korban banjir dan longsor di Pulau Sumatera. Uang itu dikumpulkan melalui platform donasi daring pada awal Desember 2025.
Tak puas berhenti di donasi pada Jumat, 5 Desember 2025, Ferry bersama tim relawan mendatangi langsung wilayah terdampak di Aceh Tamiang. Saat tiba di Kecamatan Sekerak, suasana begitu memilukan: banyak warga dilaporkan kelaparan, kehausan, tanpa air bersih maupun listrik, beberapa bahkan terpaksa minum air banjir demi bertahan hidup. Kondisinya digambarkan sebagai “sama sekali tidak membaik.”
Momen itu menjadi haru Ferry Irwandi tampak terisak saat menyaksikan langsung penderitaan warga. Ia menyerukan pentingnya perhatian dan bantuan berkelanjutan dari masyarakat luas dan pemerintah.
Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan dasar seperti makanan siap saji, air bersih, logistik darurat bertujuan menjangkau warga di area terpencil dan terisolasi, di mana akses distribusi sangat sulit.
Korban & Dampak Bencana di Sumatera: Skala Nasional
Sementara itu, bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menyebabkan kerusakan masif dan korban manusia dalam jumlah besar.
Per data terbaru dari BNPB per 6 Desember 2025: korban meninggal dunia mencapai 883 orang, sementara sekitar 520 orang hilang, dan ribuan warga luka-luka. Kerusakan properti juga meluas rumah yang hancur rusak diperkirakan mencapai 121.000 unit.
Sedikit sebelumnya data sempat menunjukkan 867 jiwa tewas, 521 hilang, dan 4.200 korban luka di tiga provinsi terdampak. Selain korban manusia, bencana ini mempengaruhi sekitar 3,3 juta jiwa di seluruh area terdampak. Banyak warga terpaksa mengungsi dan bertahan di pengungsian dengan kondisi serba darurat.
Beberapa provinsi bahkan melaporkan daerah-daerah terisolasi akses jalan rusak atau tertutup, jaringan listrik dan komunikasi putus membuat distribusi bantuan menjadi sangat sulit dan memperparah kondisi warga terdampak.
Reaksi dan Upaya Bantuan, Dari Relawan Hingga Pemerintah
Aksi cepat Ferry Irwandi dan relawan dipandang sebagai bagian dari respons sipil terhadap bencana penting di tengah lambatnya distribusi bantuan ke daerah terpencil.
Pemerintah dan aparat keamanan, melalui TNI/Polri serta tim penanggulangan bencana ikut dikerahkan: membangun jembatan darurat, mendistribusikan air bersih, logistik, hingga melakukan evakuasi ke titik-titik pengungsian.
Namun krisis logistik (bahan bakar, air bersih, makanan), serta kerusakan infrastruktur membuat banyak wilayah tetap dalam kondisi kritis. Sebagian korban tetap terisolasi membutuhkan bantuan darurat dan pemulihan jangka panjang.
Mengapa Ini Jadi Perhatian Serius
Bencana kali ini disebut sebagai salah satu yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir di Pulau Sumatera. Kombinasi hujan deras, longsor, dan banjir bandang diperparah oleh kondisi deforestasi dan kerusakan lingkungan membuat dampaknya makin luas, tidak hanya korban jiwa, tapi juga kerusakan besar pada hunian, infrastruktur, dan kehidupan sehari-hari warga.
Aksi sosial dari individu dan organisasi seperti Malaka Project menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat sangat penting tapi tanpa dukungan logistik, koordinasi pemerintah-lembaga, dan pemulihan lingkungan, beban korban bisa tetap berat dan berkepanjangan.
Dalam situasi darurat ini, kontribusi dari masyarakat luas baik donasi, relawan, maupun penyebaran informasi sangat berharga. Tapi penanganan jangka panjang juga penting: mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar korban, pemulihan infrastruktur, hingga mitigasi risiko agar bencana serupa tidak terjadi dengan skala besar di masa depan.
Aksi Ferry Irwandi memberi harapan dan bukti nyata bahwa kepedulian bisa bergerak cepat. Namun, agar tragedi seperti ini tak terus berulang, dibutuhkan langkah kolektif: dari pemerintah, lembaga, masyarakat, hingga penataan lingkungan yang lebih baik.